Islam

Senin, 11 Juni 2012

AMW: Media Inggris Bias Dalam Isu Scud Syiria

Menurut pengamatan Arab Media Watch, ternyata beberapa surat kabar Inggris memberitakan kisah yang bias dalam artikel-artikel mereka terkait tudingan Israel atas isu scud untuk Hizbullah. (Foto: Google)

Menurut pengamatan Arab Media Watch, ternyata beberapa surat kabar Inggris memberitakan kisah yang bias dalam artikel-artikel mereka terkait tudingan Israel atas isu scud untuk Hizbullah. (Foto: Google)
LONDON (Berita SuaraMedia) – Arab Media Watch (AMW) menyatakan kekecewaannya terhadap pernyataan pemberitaan Inggris bahwa Syiria mengirim peluru kendali Scud pada Hizbullah. Area perhatian utamanya adalah:
 Pertama, secara keseluruhan, tuntutan Israel, dan pernyataan Amerika Serikat mendukung mereka, telah lebih terkenal daripada bantahan pemerintah Syiria dan Lebanon, sebagaimana keraguan yang dinyatakan analis.
Kedua, secara keseluruhan, tuntutan dan pernyataan dukungan telah memberi lebih banyak ruang kata daripada tuntutan dan keraguan.
Ketiga, di beberapa artikel, tidak ada bantahan Syiria dan Lebanon.
Keempat, keraguan pegawai Amerika Serikat terhadap tuntutan Israel sepenuhnya tidak dilaporkan.
Selanjutnya, Hizbullah digambarkan sebagai ancaram bagi Israel lebih sering dibanding penggambaran Israel sebagai ancaman bagi Libanon/Hizbullah.
Terakhir, berdasarkan kriteria di atas, kantor berita the Daily Telegraph menampilkann yang paling buruk.
AMW menganalisa pemberitaan media nasional Inggris – yang ditampilkan pada 16 – 26 Juni 2011 – menggunakan Lexis Nexis. Sembilan artikel dicetak dalam total: lima di Telegraph, dan dua di the Guardian dan Independent (Lexis Nexis tidak memasukkan the Financial TImes).
Tujuh artikel (78%) menyebutkan tuntutan sebelum bantahan dan keraguan, termasuk semua beritathe Telegraph, satu dari artikel Independent, dan satu dari artikel the Guardian.
Dalam dua artikel Telegraph, bantahan Syiria – yang sangat penting dalam cerita tersebut – diletakkan paling akhir. Hanya satu artikel (di the Guardian) menyebutkan bantahannya lebih dulu, dalam bentuk pernyataan Perdana Menteri berlatar belakang Barat, Saad Hariri.
Artikel Independent lainnya tidak mengandung bantahan atau keraguan apapun, satu-satunya artikel yang tidak melakukannya. Pernyataan Hariri – yang tidak dapat dijelaskan sebagai pendukung Hizbullah ataupun Syiria – sepenuhnya tidak ada di the Telegraph.
Tidak satupun dari artikel yang meliputi keraguan pemerintah Amerika Serikat, diberitakan oleh Reuters misalnya, bahwa Syiria mengirimkan Scuds pada Hizbullah. “Kami tidak percaya hal itu terjadi,” kata salah seorang pegawai pemerintahan Amerika Serikat. “Pada titik ini tidak jelas apakah pengiriman terjadi… dan Amerika Serikat tidak memiliki indikasi roket tersebut telah melewati perbatasan,” kata yang lain.
The Guardian yang paling mendekati hal ini, walaupun hanya dilaporkan pernyataan Amerika Serikat “menghentikan pendek” penegasan tuntutan Israel.
Dari delapan artikel yang memasukkan baik tuntutan dan bantahan, enam (75%) memberikan lebih banyak ruang kata bagi sebelumnya, termasuk semua artikel the Telegraph yang berjumlah lima buah.
Hanya satu artikel (the Guardian) mencurahkan banyak kata pada bagian akhir, dengan satu artikel (Independent) memberikan ruang kata yang hampir sama bagi kedua sisi.
Hasil penelitian ini menggema pada pemberitaan media Inggris tentang pernyataan CIA bahwareaktor nuklir yang diduga milik Syiria dikatakan telah dihancurkan dalam serangan udara Israel pada September 2007.
Walaupun beberapa bagian tertentu dari media mendekati pernyataan CIA secara kritis, pada keseluruhannya mereka mendapat lebih banyak pemberitaan daripada bantahan Syiria dalam arti jumlah kata, dan dimana keduanya dimasukkan, pendahulunya cenderung ditempatkan lebih terkenal.
“Merupakan tanggung jawab jurnalis untuk melaporkan kedua sisi cerita, yang artinya tuntutan harus dilaporkan sebagaimana adanya dan seimbang dengan posisi sebaliknya,” penelitian itu menyebutkan. Kata-kata ini saling berkaitan berdasarkan tuntutan terbaru yang menyatakan Scud Syiria dikirim ke Hizbullah.
Penampilan buruk the Telegraph dalam contoh ini juga mengingatkan pada studi AMW sebelumnya, yang menemukan bahwa surat kabar yang menyediakan dua sudut pandang, “the Daily Telegraphyang paling tidak seimbang, dengan memberikan hampir tujuh kata lebih banyak bagi tuntutan Amerika Serikat dibanding bantahan Syiria.
Pada akhirnya, AMW memantau seberapa sering kedua sisi digambarkan sebagai ancaman bagi sisi yang lain. Dari 29 pernyataan, Hizbullah digambarkan sebagai ancaman bagi Israel sebanyak 16 kali (55%). Sementara Israel digambarkan sebagai ancaman bagi Hizbullah /  Lebanon 13 kali (45%). Masing-masing contoh keduanya termasuk:
“Senjata yang diasumsikan sebagai Scud Bs dengan jangkauan 300 km, memungkinkan mereka menyerang sebagian besar Israel.”
“Hizbullah – seperti tentara Lebanon – ketakutan berlebihan terhadap superioritas udara yang dinikmati jet Israel.”
The Independent merupakan satu-satunya surat kabar yang menggambarkan Israel sebagai suatu ancaman (enam kali) lebih banyak dibanding Hizbullah (satu kali). The Telegraph menggambarkan Hizbullah sebagai ancaman hampir dua kali sebanyak yang mereka lakukan terhadap Israel (sembilan sampai lima kali, atau 64% hingga 36%), sementara the Guardian menggambarkan Hizbullah sebagai ancaman tiga kali lebih banyak dari yang digambarkan pada Israel (enam sampai dua kali, atau 75% sampai 25%).
The Telegraph mengandung sebagian besar referensi bahwa Hizbullah menjadi ancaman (56%), diikuti the Guardian (38%) kemudian the Independent (6%). The Independent mengandung referensi paling banyak bahwa Israel menjadi ancaman (46%), diikuti the Telegraph (38%) kemudian the Guardian (15%).
Hanya dua artikel yang merujuk Israel sebagai ancaman lebih banyak dari Hizbullah: satu di masing-masing the Independent dan Telegraph. Artikel Independent lainnya menggambarkan tiap sisi sebagai ancaman dalam jumlah sama. (raz/meo) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar: